JAUHI DAN STOP KORUPSI

JAUHI DAN STOP KORUPSI  Tata Sukmara*

Perjalanan menyusuri Kali Manday di Kalimantan Barat memang membuat hati bergetar. Ada perasaan takut, tapi juga menyenangkan. Mungkin boleh juga dibilang wisata, karena baru kali pertama menyusuri sungai dengan menggunakan alkon atau long boat. Betapa tidak karena disepanjang alur sungai hanya belukar, tidak ada pom bensin atau rumah makan.

Dari perjalanan itu, ada hikmah yang dapat diambil. Ternyata Indonesia kaya raya, namun sayangnya kekayaan tersebut belum dioptimalkan untuk mewujudkan kesejahteraan. Kalaupun ada, dari 250 juta lebih rakyat Indonesia hanya segelintir orang saja yang kaya raya. Bisa jadi karena karena keturunan atau hasil usaha yang sangat keras, seperti yang dilakukan beberapa penyuluh di Kabupaten Kapuas Hulu. Di luar jam kerja mereka berusaha membudidayakan ikan Arwana dan penanaman pohon Puri sebagai bahan pokok untuk kosmetik. Dari usaha itulah mereka memperoleh kekayaan.

Sementara yang lain, baru bisa kaya ketika menjabat dan korupsi. Banyak contoh yang sering kita dengar, awalnya kere, lalu tiba-tiba karena memegang jabatan, kekayaannya langsung meroket. Itulah realita dinegeri yang kita cintai ini.

Sungguh miris dan mengenaskan rasanya. Kalau secara pribadi, orang yang merasa hidupnya cukup saja tidak merasa miris. Tapi bagi yang miskin karena ulah para koruptor, tentu saja akan jadi sangat kesal, emosi, atau boleh jadi akan memendam kemarahan yang membuncah.

Terkadang muncul pertanyaan dalam hati, kapan korupsi ini akan berakhir? Kalau hanya mengandalkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saja tentu tidak cukup dalam mengungkap kasus-kasus korupsi yang menggerogoti bangsa ini. Diperlukan jutaan orang untuk mengawasinya. Kenapa demikian? Karena korupsi boleh dikatakan sudah mendarah daging. Selain itu, hukuman para koruptor sangat ringan, dan pada momen-momen tertentu Presiden memberikan grasi.

Beruntung Kementerian Pertanian mempunyai sosok Menteri Andi Amran Sulaeman yang termasuk sosok yang sangat anti korupsi. Sejak awal sudah nampak banyak kebijakan Menteri Amran yang berpengaruh signifikan pada langkah pencegahan korupsi. Diantaranya, pengadaan barang dan jasa secara terbuka dan transparan. Begitu juga dengan pengisian jabatan melalui lelang jabatan, sehingga pejabat yang terpilih betul-betul profesional, tidak lagi berdasarkan pesanan atau KKN.

Banyak gebrakan yang dilakukan sang maestro ini, sehingga tidak mengherankan jika memperoleh berbagai penghargaan sehubungan dengan prestasinya memperbaiki tata kelola membangun pertanian.

Berkaitan dengan tata kelola pertanian, Amran melakukan revolusi mental pada pegawai Kementan dengan menempatkan Satgas KPK, Polri dan Kejagung untuk mengawal program dan anggaran. Kolaborasi dengan Menteri Perdagangan, Kapolri, Kabulog, KPPU membentuk Satgas Pangan. Termasuk juga mendidik disiplin bekerja full-time perhari dan terjun langsung ke lapangan, serta segudang terobosan yang dilakukannya. Disinilah perlunya membangun integritas, kreativitas dan potensi diri.

Tak heran jika pada Peringatan Hari Anti Korupsi Se-Dunia, 12 Desember lalu, KPK menganugerahi Kementerian Pertanian sebagai salah satu dari 10 institusi kementerian/Lembaga dengan Sistem Pengendalian Gratifikasi terbaik. Penghargaan ini tentu bukan sekedar rekayasa, tapi mengacu pada hasil penilaian evaluasi KPK, yang dianggap konsisten dan patuh dalam pelaporan harta kekayaan pejabat negara, mencegah gratifikasi, dan telah membuat unit pencegahan untuk itu.

Luar biasa..Inilah babak baru menuju kecerahan bangsa, kita berharap lahirnya Amran Amran yang mampu meminimalkan bahkan menghapus citra buruk korupsi di tanah kita..

*) Kepala Seksi Evaluasi dan Pelaporan Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian Ciawi

Follow PPMKP :

Berita

Facebook

Menu Diklat