PPMKP Mantapkan Persiapan 47 Petani Muda untuk Magang di Jepang

Ciawi – Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) kembali mengadakan pemantapan bagi para petani muda yang akan dikirim magang ke Jepang. Kali ini 47 petani muda asal Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Jambi, Riau, Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur yang mengikuti pembekalan di PPMKP.

Para petani muda ini akan digembleng untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan mental petani muda dalam mengelola serta mengembangkan usaha pertanian selama 14 hari, mulai dari 28 Maret hingga 10 April 2018. Para peserta ini akan mengikuti sesi pelatihan sebanyak 112 jam pelatihan yang disampaikan fasilitator Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) Kementerian Pertanian, Widyaiswara PPMKP, Sensei dari Ikatan Alumni Mahang Jepang (IKAMAJA), Praktisi Bahasa dan Budaya Jepang, dan institusi terkait lainnya.

“Program magang Jepang ini sangat penting khususnya bagi program regenerasi pertanian, diharapkan para peserta magang memiliki niat untuk maju, mandiri, dan berpikir apa yang harus dikerjakan seusai magang nanti” ujar Kepala Puslatan, Widi Hardjono, saat membuka Diklat Pemantapan Magang Jepang di PPMKP Ciawi, Kamis (29/3).

Widi menambahkan, para peserta diharapkan jangan mudah mengeluh, tapi justru menjadikannya sebagai tantangan dan yakin bisa melakukannya. Banyak yang bisa ditiru atau dicontoh dari para petani Jepang. Salah satu bentuk inovasi yang bisa diambil dari para petani Jepang adalah cara menanam tomat yang penyerbukannya menggunakan lebah dan hasilnya tomat terasa manis. Oleh karena itu, lanjut Widi, peserta harus melihat jeli bagaimana para petani Jepang berusaha.

“Membangun networking, mendokumentasikan kegiatan sehari-hari selama di Jepang dalam bentuk catatan, foto dan video merupakan salah satu bekal yang akan bermanfaat ketika kembali ke tanah air,” ucapnya.

Widi Juga berpesan agar peserta senantiasa bersemangat ketika beraktivitas di negeri matahari terbit. “Para peserta magang harus senantiasa bersemangat, dan jangan sampai lupa beribadah, karena hal ini merupakan salah satu rasa syukur nikmat kita, karena semakin banyak bersyukur maka semakin banyak nikmat yang didapat,” pesannya.

Peserta magang Jepang yang berasal dari Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Wahyu Indra mengatakan bahwa dia termotivasi untuk menambah wawasan, jaringan, ilmu dan pengalaman di negara Jepang. Dan berharap seusai magang bisa mengembangkan pertanian, khususnya di bidang peternakan sapi dan domba.

Sementara Istirahayu, peserta magang asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menuturkan, ingin mengembangkan pertanian dimulai dari peternakan sapi, membuat sistem pertanian terpadu dengan konsep Zero Waste (tidak ada limbah yang terbuang).

“Saya termotivasi untuk menambah wawasan di bidang pertanian dan juga untuk menambah relasi, karena di program ini diikuti oleh banyak sekali petani muda dari seluruh indonesia. Dengan masing-masing pengalaman usaha taninya, dan diharapkan bisa mempermudah usaha saya dalam mengembangkan pertanian” tambah Istirahayu.

Menurut lumni magang Jepang angkatan XV yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara, Muchlis Musiran, menjadi petani muda dan berkesempatan mengambil ilmu di negeri Jepang dalam bentuk kegiatan magang Jepang adalah kesempatan langka yang sangat baik.

“Usai magang, akan terbentuk kemandirian dan improvisasi untuk kehidupan atau tidak bergantung kepada orang lain. Bahkan bisa menciptakan peluang untuk bisa membantu orang lain, terutama di bidang pertanian,” tambah alumni magang Jepang tahun 1998-1999 dalam program Kumamoto bidang tanaman buah jeruk ini.

Sampai dengan saat ini berdasarkan data yang dihimpun Puslatan, kerjasama yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan Bersama (MoU) dengan Asosiasi Petani Jepang (JAEC) sudah menghasilkan lulusan petani magang Jepang tidak kurang dari 1.278 orang.

Selesai pemantapan, sebanyak 24 orang akan ditempatkan di IAEA Gunma selama 2 hingga 3 tahun, 18 orang di JAEC Tokyo selama 1 tahun, dan 5 orang peserta akan ditempatkan di NAEC Niigata untuk masa kerja 8 bulan.***(yi; ed:mnh)

Berita

Facebook

Menu Diklat