Pemimpin Harus Keluar dari Zona Nyaman

Ciawi—Menjadi pemimpin di era sekarang akan banyak sekali mendapat tantangan yang tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Oleh karena itu pemimpin harus keluar dari zona nyaman, ia harus mampu mengubah kondisi yang ada. Menyelesaikan masalah dengan cara yang tidak biasa, karena perubahan pada prinsipnya adalah menyampaikan sesuatu yang tidak biasa. Inilah yang diharapkan dari Diklatpim, menghasilkan pemimpin perubahan.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Andriko Noto Susanto, pada Penutupan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV (Diklatpim IV) Angkatan XIV, Jum’at (6/7).

Dalam kegiatan yang diadakan di Komplek Surya, Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi tersebut, Andriko memaparkan syarat-syarat yang harus dimiliki para pemimpin di Kementerian Pertanian. Menurutnya, pemimpin di semua level yang ada harus mengarahkan semua kegiatannya untuk mencapai visi Kementerian Pertanian, yakni mewujudkan kedaulatan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Yang dimaksud pangan di sini, tidak hanya padi, jagung dan kedelai saja, tapi setidaknya ada sembilan jenis pangan yang harus berdaulat,” paparnya.

Untuk mewujudkannya, lanjut Andriko, memang harus ada perubahan mindset. Dari menerima, menjadi memberi. Dari impor, menjadi ekspor. “Ekspor itu tidak mungkin bisa dilakukan, kalau di dalam negeri pangan kita tidak berdaulat,” ucapnya.

Perubahan mindset itulah yang bisa mendorong Kementerian Pertanian bisa mewujudkan capaian-capaian saat ini. Peningkatan produksi pertanian hingga bisa mengekspor ke negara lain adalah buah perubahan mindset dan upaya yang tidak biasa.

Andriko menekankan setiap level pimpinan harus tahu, update dan paham kinerja Kementerian Pertanian dan wajib menyampaikannya kepada masyarakat. “Kerberhasilan Kementerian Pertanian ini adalah kebanggaan kita bersama yang harus kita sampaikan kepada masyarakat. Seorang pemimpin harus punya kebanggaan akan negaranya, akan korpsnya, akan pekerjaannya. Jika kebanggaan sudah hilang, maka mana mungkin ada semangat untuk mencapai tujuan,” paparnya.

Yang tidak kalah penting, papar Andriko, pemimpin harus senantiasa menjaga jiwa korsa kepemimpinan yang meliputi rasa hormat dan kesetiaan, semangat kebersamaan, rasa senasib dan sepenanggungan, rasa solidaritas, semangat persatuan dan kesatuan, serta tidak mementingkan diri sendir dan golongan. Menurutnya jiwa korsa ini akan melahirkan jiwa petarung yang siap keluar dari zona nyaman untuk melakukan perubahan.

Sementara itu, dalam laporannya, Ketua Penyelenggara Kegiatan, Eri Herlina menyampaikan Diklatpim IV yang diikuti 40 pejabat dan calon pejabat pengawas atau eselon IV lingkup Kementerian Pertanian. Para peserta telah mengikuti kegiatan sejak 18 Februari hingga 6 Juli dan menghasilkan Proyek Perubahan yang telah diuji pada Seminar Proyek Perubahan.

“Dari hasil penilaian pada rapat kelulusan diperoleh nilai rata-rata sebesar 87,10. Nilai tertinggi 93,60, dan nilai terendah 73,10. Sebanyak 14 peserta mendapat predikat Sangat Memuaskan, 20 orang dengan kategori Memuasakan dan 2 orang dengan predikat cukup. Dari hasil tersebut, peserta Diklatpim IV Angkatan XIV dinyatakan lulus 100 persen,” ucap Eri.

Setelah menutup kegiatan diklat, Andriko didampingi Kepala PPMKP, Heri Suliyanto dan para pejabat di lingkup PPMKP meninjau standing banner proyek perubahan yang dihasilkan peserta diklat. ***(mnh)

Berita

Facebook

Menu Diklat