Menitipkan Mimpi Kepada Anak Cucu

Menitipkan Mimpi Kepada Anak Cucu

Oleh: M.N. Habibi*

Baru-baru ini The Economist Intelligence Unit (EIU) yang bekerja sama dengan Barilla Center for Food and Nutrition (BCFN) merilis indeks keberlanjutan pangan yang menempatkan Indonesia pada peringkat 21 dengan skor 50,77. Peringkat ini menempatkan posisi Indonesia di atas Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi dan India.

Tentu ini hal yang membanggakan. Pengakuan pihak internasional tersebut menunjukkan apresiasi dunia atas prestasi Indonesia yang dicatatkan sektor pertanian. Peningkatan produksi padi yang dicapai melalui progran Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale), sejak tahun lalu mampu memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Dengan kata lain, Indonesia kembali bisa mewujudkan swasembada beras yang terakhir bisa dilakukan 32 tahun lalu. Demikian pula peningkatan komoditas yang lain seperti jagung, cabai dan bawang merah yang saat ini sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Meski demikian, upaya untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 menghadapi tantangan yang sangat berat. Faktor eksternal seperti perubahan iklim dan menurunnya daya dukung alam telah lama digaungkan dan dicarikan solusinya. Demikian pula dengan keterbatasan lahan dan sarana pendukungnya. Yang tidak kalah penting adalah faktor ketersediaan sumber daya pengelola pertanian yang memadai baik jumlah maupun kemampuannya.

Masalahnya, saat ini jumlah petani semakin menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah petani pada tahun 2014 sebanyak 38,97 juta orang, menurun dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 39,22 juta jiwa. Jumlah ini kembali berkurang di tahun 2015 menjadi 37,75 juta jiwa. Permasalahan semakin besar lagi ketika melihat rata-rata usia petani yang makin sepuh yang tentu saja berdampak pada tingkat produktivitas kerja. Di sisi lain, laju pertumbuhan penduduk Indonesa tercatat 1,49 persen atau ada penambahan sekitar empat juta orang baru per tahun yang harus mendapat pasokan pangan.

Salah satu harapan agar profesi petani tidak punah tentunya dengan melakukan regenerasi. Hanya saja, tidak mudah untuk menarik generasi muda untuk memilih profesi petani. Para pemuda desa lebih memilih mengadu nasib ke kota atau bekerja di sektor industri. Apatah lagi pemuda yang berasal dari kota, tentu tak akan terbersit untuk menjadi petani.

Imej petani sebagai profesi gurem, miskin, kotor dan hanya tempat bagi orang-orang yang berpendidikan rendah menjadi salah satu penyebab profesi petani menjadi tidak menarik. Jika hal ini dibiarkan, tentu tak akan lagi ada yang meneruskan usaha di bidang pertanian. Dan, tentu saja hal ini akan berdampak pada gagalnya pencapaian target seperti yang telah dicanangkan sebelumnya.

Rekonstruksi Imej

Agaknya sudah menjadi keharusan bagi pemerintah merekonstruksi imej petani, jika ingin profesi ini dijadikan pilihan oleh generasi muda. Dunia pertanian harus bisa digambarkan semirip mungkin dengan impian anak muda sekarang. Dunia pertanian harus menjadi bagian dari angan-angan generasi muda.

Pertanian harus dihadirkan sebagai dunia yang sarat teknologi, penuh inovasi dan –tentu saja– tampil penuh gaya dan trendy. Gambaran seperti inilah yang saat ini menarik bagi kaum muda. Apakah bisa? Tentu saja bisa. Mungkin kita masih ingat gaya berbusana cowboy yang sempat nge-trend, bahkan hingga kini. Padahal, itu hanya “setelan” para penggembala di Amerika sana.

Di sini peran media menjadi sangat penting. Bagaimana mengisi kanal-kanal informasi, tidak semata mengenai keberhasilan sektor pertanian, tetapi lebih jauh, mengedepankan pertanian sebagai trend masa depan. Inilah yang akan menarik generasi muda untuk memilih pertanian sebagai jalan hidupnya.

Di sisi lain, filosofi profesi petani sebagai profesi mulia juga harus ditanamkan sejak dini. Seperti halnya profesi dokter yang dianggap mulia karena menolong orang yang sakit, maka profesi petani juga harus mampu digambarkan sebagai profesi mulia karena menyediakan makanan yang dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan hidup.

Oleh karenanya, memasukkan konten pertanian dalam kurikulum sekolah adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. Kunjungan ke Taman Sains Pertanian atau Taman Teknologi Pertanian harus diagendakan untuk para siswa sekolah umum, bukan hanya sekolah khusus pertanian atau penyuluh atau akademisi saja. Dari situ diharapkan ketertarikan untuk terjun ke sektor pertanian tumbuh semakin kuat.

Hal yang tak kalah penting adalah modernisasi sektor pertanian harus menjadi prioritas. Mekanisasi dan penerapan teknologi terkini di sektor ini menjadi realitas nyata yang menarik generasi muda untuk menekuni dunia pertanian. Tanpa itu semua, bisa jadi prestasi yang ditorehkan hari ini, hanyalah jadi catatan sejarah. Keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045, seperti yang telah ditetapkan dalam Visi Kementerian Pertanian, bisa jadi hanya sebatas pada rencana. Para pemuda saat ini lah yang kelak bisa mewujudkannya di masa mendatang.

Regenerasi petani yang ditandai dengan terlibatnya para pemuda di sektor pertanian, sejatinya adalah sebuah pewarisan mimpi untuk mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045 dan seterusnya. Karena petani yang ada saat ini mungkin sudah berkalang tanah, dan hanya bisa mewariskan mimpi itu kepada anak cucunya, para petani pewaris negeri.

*Penulis adalah Pranata Humas di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian, BPPSDMP.

Referensi:

  1. http://www.mediaindonesia.com/index.php/news/read/111333/di-dunia-peringkat-pangan-ri-meningkat/2017-07-04
  2. http://ekonomi.kompas.com/read/2017/01/07/120000626/populasi.petani.indonesia.terus.menurun.apa.solusinya

*ilustrasi : sumber

Berita

Facebook

Menu Diklat

error: Content is protected !!